PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (OPT) RAMAH LINGKUNGAN PADA CABAI

Petani Muda Indonesia
3

Permasalahan kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) sudah menjadi perhatian para petani sejak awal kegiatan budidaya. Serangan OPT dapat mengurangi mutu dari hasil tanaman serta dapat meningkatkan biaya produksi yang tinggi. Dengan adanya OPT, tentunya membuat resah para petani dengan kemungkinan gagal panen. Besarnya kehilangan hasil akibat OPT mendorong petani untuk menggunakan pestisida sintetis yang dianggap satu – satunya cara tercepat dan paling efektif untuk mempertahankan hasil cabai.

Namun, tahukah kalian? penggunaan pestisida sintetis bukan satu – satunya cara untuk pengendalian OPT. Para petani dapat melakukan cara lain, salah satunya yaitu pengendalian OPT ramah lingkungan. Pengendalian tersebut dapat menekan dampak negatif terhadap lingkungan dan lebih mengarah pada penggunaan produk hayati. Hal ini juga mengikuti perkembangan permintaan pasar yang mulai mempertimbangkan keamanan produk bagi konsumen dan kesadaran untuk mengurangi kerusakan lingkungan.

Oleh karena itu, akhir – akhir ini pengendalian OPT ramah lingkungan dikembangkan terutama dalam usaha tani cabai.  Cabai merupakan salah satu komoditas pilihan bagi petani karena mempunyai nilai jual yang tinggi. Pengusahaan cabai dilakukan secara intensif tanpa mempertimbangkan prinsip pertanian berkelanjutan sehingga mengakibatkan timbulnya ledakan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Berikut beberapa jenis OPT pada tanaman cabai yang patut diwaspadai dan diantisipasi oleh para petani serta cara pengendaliannya.

1. Lalat Buah (Bactrocera spp.)

Lalat Buah

Lalat buah memiliki panjang tubuh berkisar antara 6 - 8 mm. Gejala serangan ditandai dengan terdapatnya titik hitam pada pangkal buah cabai tempat serangga dewasa memasukkan telur. Akibat serangan hama lalat buah produksi dan mutu buah cabai menjadi rendah, bahkan tidak jarang mengakibatkan gagal panen karena buah menjadi busuk dan berjatuhan ke tanah.

Pengendalian:

  • Tumpang sari tanaman cabai dengan kubis atau tomat dapat menekan populasi lalat buah dan pengaturan jarak tanam yang tidak terlalu rapat
  • Pengasapan dengan cara membakar serasah/jerami untuk mengusir lalat buah yang datang ke pertanaman
  • Penggunaan perangkap atraktan metyl eugenol yang dipasang atau digantung di dalam perangkap yang terbuat dari bekas air mineral untuk menangkap lalat buah jantan
  • Pemanfaatan musuh alami baik parasitoid (Biosteres sp. dan Opius sp.), predator (semut, laba – laba dan cocopet) atau patogen (Beauveria sp.)

2. Penyakit Antraknosa (PATEK)

Penyakit Antraknosa

Patek merupakan penyakit utama yang menyebabkan kerugian secara ekonomi pada seluruh pertanaman cabai di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan colletotrichum capsici dan colletotrichum gloeosporioides. Ditandai buah busuk berwarna kuning – coklat seperti terkena sengatan matahari diikuti oleh bau busuk basah. Pada biji cabai sendiri dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah.

Pengendalian:

  • Memusnahkan bagian tanaman, baik daun, batang atau buah yang terinfeksi
  • Lakukan penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae (terong, tomat dll.) atau tanaman inang lainnya
  • Lakukan penyemprotan dengan fungisida atau agens hayati yang tepat terutama tanaman berumur 20 hari di persemaian atau 5 hari sebelum dipindahkan ke lapangan
  • Perawatan di lingkungan sekitar tanaman mutlak dilakukan terutama cabang air (wiwilan), penyiangan gulma dan pengaliran air yang tergenang
  • Tambahkan unsur Kalium dan Kalsium untuk membantu pengerasan buah cabai

3. Kutu daun (Myzus persicae)

Kutu Daun

Kutu daun termasuk hama yang paling umum ditemukan pada tanaman cabai. Kutu daun akan menyebabkan tanaman menjadi kering, kekuningan, mudah patah dan lama – kelamaan mati. Perkembangbiakan kutu daun akan meningkat di musim kemarau, untuk itu kamu perlu melakukan pengecekan secara berkala. Kutu daun seperti trips dan kutu kebul juga menyerang hampir pada semua fase umur tanaman cabai. Biasanya kutu daun yang menyerang cabai antara lain kutu daun persik (Myzus Persicae) dan kutu daun kapas (Aphis Gossypii).

Pengendalian :

  • Pemasangan perangkap likat warna, biru, putih atau kuning sebanyak 40-50 buah/ha sejak penanaman
  • Penggunaan mulsa plastik perak (di dataran tinggi) yang dapat memantulkan cahaya matahari, sehingga dapat menghalau kutu daun
  • Pemanfaatan musuh alami kutu daun seperti predator (Coccinella sp.) serta patogen (Beauveria bassiana, Aspergillus sp., Entomophthora sp., Metarhizium anisopliae dan Verticillium lecanii).

Untuk kamu yang ingin membasmi kutu daun, perlu menyemprotkan tanaman dengan air agar tidak mati. Kemudian, kamu dapat menyemprotkan dengan pestisida buatan sendiri yang merupakan campuran dari 1 sendok makan cuka, 1 sendok makan sabun cair, 1 sendok makan minyak sayur, 1.5 sendok makan soda kue dan satu galon air.

4. Kutu Kebul (silverleaf)

Kutu Kebul

Jarang dikenal, nyatanya kutu kebul adalah hama yang suka merusak tanaman cabai. Kutu kebul akan menyerang bagian daun, sehingga memperlambat pertumbuhan tanaman cabai. Bagian daun akan dipenuhi bercak yang menandakan rusaknya sel-sel daun. Kuatnya serangan kutu kebul dapat menurunkan hasil panen secara drastis. 

Pengendalian :

  • Menjaga kebersihan lahan/sanitasi lahan dari gulma, terutama babandotan, daun kancing dan ciplukan.
  • Penanaman tanaman pinggiran lahan tanam sebagai penghalang (barrier) seperti jagung dan orok-orok.
  • Penanaman tanaman refugia untuk konservasi musuh alami.
  • Tumpang sari antara tanaman cabai dengan tagetes untuk mengurangi risiko serangan berat.
  • Penggunaan kelambu di pesemaian untuk menghindari infestasi dini  Pemasangan perangkap likat kuning sebanyak 40 lembar/ha.
  • .Aplikasi pestisida nabati (daun sirsak, nimba) dan menggunakan ekstrak bunga pukul empat, bayam duri, sirsak dan eceng gondok, sebagai inducer

Untuk membasminya, kamu dapat mengecek bagian belakang daun dan menyemprotnya menggunakan air. Jika jumlahnya terlalu banyak, kamu bisa menggunakan pestisida dengan mengikuti petunjuk yang tertera pada kemasan.



Referensi

Hasyim, A., Setiawati, W., & Lukman, L. 2015. Inovasi Teknologi Pengendalian OPT Ramah Lingkungan Pada Cabai : Upaya Alternatif Menuju Ekosistem Harmonis Pengembangan Inovasi Pertanian. Pengembangan Inovasi Pertanian. Vol.8. No.1 . hlm 1-10.

Redaksi AgroMedia. 2008. Panduan Lengkap Budidaya dan Bisnis Cabai. Jakarta : PT. Agromedia Pustaka.



 


Tags

Posting Komentar

3Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
  1. Materinya bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan kita mengenai hama dan penyakit pada cabai serta pengendaliannya yang ramah lingkungan dan tidak memakai pestisida kimia

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Informatif dan menambah pengetahuan saya

    BalasHapus
Posting Komentar

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !