Diantara kalian yang membaca artikel ini pasti sudah sangat mengenal apa itu cabai. Cabai atau yang sering kita sebut cabe merupakan hasil panen dari tanaman yang menghasilkan buah cabai dengan rasa pedas, dan dapat dikategorikan sebagai sayuran dan bumbu. Terutama untuk seorang pecinta makanan pedas, cabai merupakan bumbu wajib yang harus ada pada makanan yang akan dikonsumsi.
Apa Itu Cabai?
Cabai merupakan salah satu tanaman hortikultura yang keberadaannya sangat dibutuhkan oleh kalangan masyarakat sehingga bernilai ekonomis yang tinggi. Permintaan terhadap jenis sayuran ini terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.
Produk cabai setelah panen masih melakukan aktivitas metabolisme, sehingga bila tidak ditangani dengan segera akan mengalami kerusakan fisik dan kimiawi. Sifat cabai yang mudah rusak (perisable) mengakibatkan tingginya susut pasca panen serta terbatasnya masa simpan setelah pemanenan dan timbulnya serangan organisme pengganggu tanaman yang dapat menurunkan mutu.
Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk memperpanjang umur simpannya dan mempertahankan mutu dengan penanganan pasca panen yang baik dan benar.
Lalu, Bagaimana Penanganan Pascapanen Cabai?
Biasanya sortasi dan grading dilakukan oleh pedagang dan jarang dilakukan oleh petani. Sortasi dilakukan untuk memisahkan buah cabai merah yang sehat, bentuk normal dan baik. Penundaan sortasi akan memperbesar kebusukkan, Sortasi dan grading lebih mengarah keseragaman warna dan pemisahan buah yang memiliki kondisi baik, dengan buah yang tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan perusahaan. Buah yang rusak atau patah, terserang hama dan penyakit, serta berwarna tidak merah sempurna segera dipisahkan. Sementara itu, buah yang sesuai kriteria segera dibuang tangkai buahnya, dan dicuci sampai bersih lalu diangin-anginkan sampai kering.
Sebuah produk komoditas pasti akan mengalami kerusakan baik fisik, kimia, dan mikrobiologis walaupun sudah dilakukan penyimpanan. Kerusakan yang terjadi diantaranya susut bobot, pH, dan warna yang mana menurut Sulistiyaningrum (2018) akan mengalami kemunduran produk yang dilihat pada penyimpanan selama 8 hari. Akan tetapi, penyimpanan tetap diperlukan sebagai alat dalam meningkatkan umur simpan komoditas.
Salah satu yang bisa dilakukan yaitu dalam sebuah penelitian dikatakan penggunaan suhu 7-10º dapat mempertahankan umur simpan cabai hingga 2-3 minggu. Penyimpanan suhu rendah perlu dilakukan karena mengingat suhu Indonesia tinggi yang menyebabkan kelembaban lingkungan menjadi rendah sehingga laju respirasi pada cabai merah meningkat akhirnya memperpendek umur simpan.
Curing bertujuan untuk memaksimalkan pembentukan dan penstabilan warna cabai sebelum dikeringkan. Sedangkan curing pada penyimpanan cabai segar dimaksudkan untuk membuang panas lapang, untuk mengurangi beban refrigerator (lemari pendingin)
Mengeringkan cabai membuatnya jadi lebih awet. Namun, tetap harus memperhatikan wadah dan lokasi penyimpanan.
- Pengeringan cara petani, biasanya dengan menggunakan sarana lamporan dan rak-rak kayu atau bambu
- Pengeringan buatan menggunakan alat dengan sumber panas dari energi matahari
- Lalu yang terakhir yaitu pengeringan dengan oven, kamu dapat memanggang cabai ke dalam oven yang panasnya di bawah 60 derajat Celcius. Harus diperhatikan, waktu pemanggangannya cukup lama yaitu sekitar 10-25 jam. Tak hanya itu, kamu juga harus membalikkan cabai setiap 3-4 jam sekali agar cabai tidak gosong.
Pengemasan memegang peranan penting, karena salah satu kerusakan cabai terbesar pada saat pascapanen disebabkan oleh pengemasan yang kurang baik. Pengemasan yang baik akan melindungi mutu cabai karena terhindar dari kerusakan fisik, kimia, fisiologis atau dari serangan hama dan penyakit pascapanen. Bahan pengemas harus kuat, aman, dan memiliki sirkulasi udara yang baik.
Dari hasil penelitian menyatakan bahwa penggunaan kemasan PP dapat mempertahankan kesegaran cabai yang disimpan pada suhu 2ºC selama 4 minggu.
Pengangkutan dengan menggunakan mobil bak terbuka menyebabkan potensi kehilangan bobot cabai (susut) karena terjemur matahari selama dalam perjalanan. Hal ini tentu akan mengurani berat cabai menjadi menurun/menyusut, sehingga akan mengurangi harga dan potensi kerusakan juga lebih besar. Jika mempunyai kemampuan sebaiknya menggunakan angkutan yang memiliki penutup seperti container, karena container memiliki sirkulasi udara yang baik, dengan demikian akan mempertahankan mutu cabai, terlebih jika jarak pengangkutan cukup jauh.
Penanganan-penanganan produk cabai sebelumnya merupakan upaya agar produk cabai tetap dalam kondisi baik hingga dilakukan pemasaran. Pemasaran dilakukan dengan cara menentukan sasaran dari produk cabai. Sehingga, prosedur pemasaran bisa dilakukan secara tepat.
Komoditas cabai memiliki pasar luar. Sehingga, petani memiliki banyak pilihan baik menggunakan perantara tengkulak mau pun mencari pembeli sendiri seperti dalam prosedur produksi guna penjualan ekspor.
Referensi
H, & David, J. (2020). PENGELOLAAN CABAI UNTUK MEMPERPANJANG MASA SIMPAN. Jurnal Pertanian Agros, 290-298.
Sulistyaningrum, A., & Darudriyo. (2018). PENURUNAN KUALITAS CABAI RAWIT SELAMA PENYIMPANAN DALAM SUHU RUANG. Jurnal Agronida, 64-71.
Taufik, M. (2011). ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANI DAN PENANGANAN PASCAPANEN CABAI MERAH. Jurnal Litbang Pertanian 30(2)
Mantap lumayan membantu
BalasHapusterima kasih materi sangat informatif, mudah dipahami untuk saya yang mau mulai menanam cabai di rumah jadi tau cara antisipasi dari OPT
BalasHapus